PENDIDIKAN TANPA KARAKTER SEPERTI “SAMURAI TANPA BUSHIDO”

Pasti kita sering mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ya, lagu kebangsaan yang tiap kita perdengarkan / nyanyikan saat upacara pengibaran bendera, maupun acara formal, namun tahukah kita akan pesan yang tersurat dalam syair lagu tersebut,

” Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya”

Pesan tersurat tersebut seakan acuh dan hanya kita nyanyikan saja tanpa memahami apa pesan tersurat tersebut.
Bahwa sebenarnya yang telah diamanatkan oleh pendiri bangsa kita, adalah perintah untuk membangun setiap jiwa-jiwa manusia Indonesia khusunya para pemudanya sebagai penerus estafet pembangunan bangsa.

Banyak orang beranggapan sekarang bahwa Intelektual jauh lebih penting dari segalanya. Ada sebuah istilah ”Ilmu tanpa Karakter bagai Samurai tanpa Bushido”. kami dapatkan waktu mengikuti semnar di kampus tercinta

Seperti Ini Kira2 Materinya :
Pendidikan selama beberapa dekade belakangan ini telah bertumpu hanya pada aspek intelektualitas. Hal ini tampak pada berbagai kasus remaja yang diangkat oleh media masa, seperti tawuran, siswa, kecurangan dalam pelaksanaan UN, penggunaan Napza, dan pergaulan bebas. Penelitian mutakhir dan realitas yang terjadi di masyarakat menunjukkan bahwa bukan hanya penguasaan intelektual saja yang menunjang kesuksesan seseorang. Aspek kecerdasan emosi dan spiritual justru lebih besar pengaruhnya terhadap kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Di sinilah tampak urgensi dari pendidikan karakter. Selanjutnya ia mengatakan: “Saya semakin merasakan betapa pentingnya pendidikan karakter setelah mempelajari ilmu dan semangat samurai. Para samurai memiliki dua hal, yaitu Wasa dan Do. Wasa artinya skill sedangkan Do artinya The way of life (Prinsip hidup) yang dikenal Bushido. Para samurai memiliki senjata yang disebut Katana atau Pedang. Pedang yang tajam tentu mengerikan dan berbahaya jika dimiliki oleh orang yang tidak bermoral. Pedang menjadi tidak berbahaya ketika pemegangnya mempunyai sifat yang disebut Bushido, yaitu amanah, pengasih, santun, sopan, mulia, hormat, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan seperti kimia, fisika, akutansi, hukum, adalah ibarat pedang yang bisa membinasakan. Jika ilmu tersebut dikuasai tetapi tanpa dibekali karakter, yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki adalah ilmu fisika tanpa nurani. Begitu pula dengan white phospor yang mematikan anak-anak di Palestina. Banyaknya orang tidak bersalah dijebloskan ke dalam penjara, adalah karena orang yang menguasai ilmu hukum tidak disertai dengan sifat keadilan”.
Sekilas tentang Bushido: Seorang pembesar Jepang sedang berada dalam perjalanan. Ia melihat sebongkah emas yang tampaknya jatuh dari sebuah karavan yang lewat sebelumnya. Saat itu, ia berpapasan dengan pencari kayu yang sedang memikul bebannya. “Ambillah emas itu untukmu”, kata pembesar tadi pada pencari kayu. Ia merasa iba dengan orang yang tampak hidup susah itu hingga ingin membantu meringankan bebannya. Bukan mengambil emasnya, pencari kayu itu justru menasehati sang pembesar. “Tuan”, ucapnya. “Tuan seperti seorang terhormat. Mengapa bicara tuan begitu rendah. Saya memang seorang pencari kayu, tapi saya bangga hidup dengan hasil keringat saya sendiri. Jangan pernah tuan meminta saya mengambil yang bukan hak saya”. Sang pembesar terkesima dengan sikap pencari kayu itu. Ia orang biasa, tapi menjaga tegak karakter Bushido yang menjujung tinggi integritas dan kejujuran yang menjadi prinsip bushido. Kemajuan secara menyeluruh saat tidak lepas dari spirit bushido tersebut. Kisah itu ditulis oleh Yagama Soko (1622-1685), salah seorang penulis terpenting “Spirit Bushido atau Budaya Ksatria Jepang” (Zaim Uchrowi, 2009: 4). Spirit itu teguh dari masa ke masa hingga kini. Spirit itu bukan hanya di kalangan masyarakat terhormat, namun juga di masyarakat umum. Gambaran bahwa di Jepang setiap dampet yang jatuh umumnya akan kembali dalam keadaan utuh merupakan refleksi teguhnya integritas dan kejujuran.

Mudah2an menginspirasi bapak dan ibu pembaca semua, khusunya bagi bapak ibu pendidik, mari pak/bu kita bahu membahu menciptakan generasi yang istiqomah, tidak hanya cerdas intelektual tetapi juga moral dan spiritualnya…SEMANGAT…

Comments are closed.