PENJASORKES SMK-SMTI BANDAR LAMPUNG

AEROBIC SPORT

Sports Aerobics is the ability to perform continuous complex and high intensity movement patterns to music, which originate from traditional aerobic dance.

The main purpose of traditional aerobic dance is to improve cardiovascular endurance and fitness levels by combining a series of aerobic movements with repetitions in order to involve major muscle groups, to increase the heart rate. Because of the repetition of the movements for a long period of time, the only concern was to maintain the alignment of the body.When the sport became a part of the gymnastics family, it was necessary to add difficulty criteria to the artistic and technical aspects in ordrer to make a competitive sport.

The routine in Sports Aerobics must demonstrate continuous movement, flexibility, strength and utilization of the seven basic steps with a high degree of perfectly executed elements of difficulty. Combinations of basic aerobic dance steps together with arm movement patterns performed to music to create dynamic, rhythmic and continuous sequences of high and low impact movements.The selection of the routines should provide a desired intensity to exemplify the cardiovascular nature of aerobics.

Initially by adding difficulty elements as a criteria, competitors tended to concentrate more weighting on the difficulty elements (which is less than 10% of the final score) than the artistic area. The secret is how to integrate the difficulty elements fluently with the aerobic movements in order to create a dynamic choreography for the sport.  The routine must show a balance between variety of aerobic dance movement patterns and difficulty elements. Another trend was that sports aerobic routines were done more at the floor level.  This contradicted with the traditional aerobic movements which are performed in a standing position with vertical rebound activity.  Therefore, the new Code of Points restricts 6 elements maximum on the floor. The routine should give the impression of aerobics and not the packed with elements of a Broadway show.  Of course the competitor must captivate the audience; but this should be done in a sporting manner.  Hence, Sports Aerobics will be a dynamic and creative sport.


MEMAHAMI PEDAGOGIK

Apa itu pedagogik?

Bagi pendidik, istilah ini pasti sudah tidak asing lagi, dan ilmunya menjadi sebuah acuan dalam praktek mendidik anak. Jika dilihat dari segi istilah, pedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin).

Dari dua istilah diatas timbul istilah baru yaitu paedagogos dan pedagog, keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yaitu sebutan untuk pelayan pada zaman Yunani kuno yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah setelah sampai di sekolah anak dilepas, dalam pengertian pedagog intinya adalah mengantarkan anak menuju pada kedewasaan.

Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Lalu apa sih yang menjadi kesalahpahaman istilah Pedagogik?

Kadang sebagian orang mengartikan bahwa pedagogik merupakan ilmu pendidikan, pemaknaan ini tidak berarti salah namun juga tidak sepenuhnya benar, mengapa? Karena jika ditinjau dari makna pendidikan secara luas maka Pendidikan adalah hidup. Lebih tepatnya segala pengalaman di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu. (more…)


FILOSOFI LAGU ILIR ILIR

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“. (more…)


FILOSOFI LAGU GUNDUL-GUNDUL PACUL

Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.

Gundul: adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul: adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).
Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

GUNDUL2 PACUL CUL artinya orang yang dikepalanya sdh kehilangan 4 indera tersebut yang mengakibatkan sikap berubah jadi GEMBELENGAN (= congkak).

NYUNGGI2 WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat) selalu sambil GEMBELENGAN (= sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia2, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)

SEMOGA MENGISPIRASI SEMUANYA


BUSHIDO SPIRIT

Bushido 武 = Bu yang artinya Beladiri, 士 = Shi yang artinya Samurai atau orang dan 道 = Do yang artinya jalan atau cara yang secara harfiah dapat diartikan menjadi tatacara berperilaku kesatria adalah sebuah kode etik kepahlawanan golongan Samurai dalam tatanan feodalisme Jepang. Samurai sendiri adalah sebuah strata sosial penting dalam tatanan masyarakat feodalisme Jepang.
Bushido adalah etika moral bagi kaum samurai. Berasal dari zaman Kamakura (1185-1333), terus berkembang mencapai zaman Edo (1603-1867), bushido menekankan kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dll. Aspek spiritual sangat dominan dalam falsafah bushido. Meski memang menekankan “kemenangan terhadap pihak lawan”, hal itu tidaklah berarti menang dengan kekuatan fisik. Dalam semangat bushido, seorang samurai diharapkan menjalani pelatihan spiritual guna menaklukkan dirinya sendiri, karena dengan menaklukkan diri sendirilah orang baru dapat menaklukkan orang lain. Kekuatan timbul dari kemenangan dalam disiplin diri. Justru kekuatan yang diperoleh dengan cara inilah yang dapat menaklukkan sekaligus mengundang rasa hormat pihak-pihak lain, sebagai kemantapan spiritual. Perilaku yang halus dianggap merupakan aspek penting dalam mengungkapkan kekuatan spiritual.
Bushido mengajarkan tentang kesetiaan, etika, sopan santun, tata krama, disiplin, kerelaan berkorban, kerja keras, kebersihan, hemat, kesabaran, ketajaman berpikir, kesederhaanan, kesehatan jasmani dan rohani. (Surajaya dalam Beasley, 2003: xx)
Nilai lain yang didalami dalam dalam ajaran Bushido adalah tentang bagaimana kita bersikap total, total dalam mengerjakan sesuatu, total dalam mengabdi, dalam kesetiaan, dalam segala hal menjalani kehidupan kita. Merasakan kehidupan dalam tiap nafas berarti kita benar-benar HIDUP. Banyak dari kita yang hidup di dunia ini dengan setengah-setengah. Menyia-nyiakan hidup dengan bermalas-malasan. Bushido mengajarkan diri kita untuk merasakan setiap nafas yang kita hirup. Setiap detik hidup ini harus dijalani denga sungguh-sungguh. Segala bidang yang kita tekuni harus dijalani dengan 100%. Jika Anda adalah seorang siswa – maka Anda harus melaksanakan semua hal yang wajib dilakukan oleh seorang siswa, seperti belajar, mengerjakan tugas dan menjalani ujian. Anda wajib menenggelamkan diri Anda dalam proses menjadi seorang siswa. Dimana Anda benar-benar mendedikasikan hidup Anda untuk belajar serta menjadi seorang siswa seutuhnya.
Orang-orang yang berhasil di luar sana adalah mereka yang telah “Menenggelamkan diri” mereka dalam bidang yang mereka tekuni. Begitu juga dengan para musisi-musisi sukses seperti Kitaro ataupun Bethoven. Dalam perjalanan hidup mereka, musik merupakan segalanya dalam kehidupan mereka. Hal yang sama juga terjadi pada pembalap legendaris, Micke Doohan – Sang Juara Dunia GP legendaris. Bagaimana dengan bidang yang lain? Tentunya hal yang sama akan terjadi jika Anda mampu “menenggelamkan diri” Anda sepenuhnya pada hal yang Anda kerjakan. Hidup secara TOTAL berarti Hidup menuju Kesuksesan.
Orang-orang di luar Jepang kerap mengasosiasikan semangat bushido dengan praktek seppuku yang tidak pernah dilakukan lagi di zaman modern ini. Seppuku adalah ritual bunuh diri dengan merobek perut sendiri dengan sebilah pedang sebagai bukti rasa tanggung jawab.
Di masa-masa feodal dulu di Jepang, para pendekar perang menganggap perut sebagai tempat bermukimnya jiwa. Jadi pada waktu mereka harus membuktikan rasa tanggung jawab sebagai pendekar atas perbuatannya, mereka lebih memilih melakukan seppuku. Tata caranya adalah bersimpuh lalu merobekkan pisau kecil atau biasa disebut tanto ke permukaan perut melintang agar usus terburai. lalu seseorang dibelakang atau yang menyaksikan harus bersiap untuk memenggal kepala yang bertujuan agar penderitaan nya tidak berkepanjangan. Di jaman Edo, seppuku bahkan merupakan bentuk hukuman mati bagi anggota kelas samurai. Yang bersangkutan melakukan sendiri seppuku, untuk itu disediakan seseorang guna membantu menuntaskan kematian tersebut agar penderitaan tidak berlarut-larut. Dewasa ini seppuku sama sekali tidak dipraktekkan lagi. Kasus terakhir tercatat pada tahun 1970 ketika seorang sastrawan besar Mishima Yukio melakukan bunuh diri dengan cara ini, dan hal itu sangat mengejutkan seluruh negeri Jepang. Di luar Jepang, praktek seppuku lebih dikenal dengan hara-kiri (merobek perut).


PENDIDIKAN TANPA KARAKTER SEPERTI “SAMURAI TANPA BUSHIDO”

Pasti kita sering mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ya, lagu kebangsaan yang tiap kita perdengarkan / nyanyikan saat upacara pengibaran bendera, maupun acara formal, namun tahukah kita akan pesan yang tersurat dalam syair lagu tersebut,

” Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya”

Pesan tersurat tersebut seakan acuh dan hanya kita nyanyikan saja tanpa memahami apa pesan tersurat tersebut.
Bahwa sebenarnya yang telah diamanatkan oleh pendiri bangsa kita, adalah perintah untuk membangun setiap jiwa-jiwa manusia Indonesia khusunya para pemudanya sebagai penerus estafet pembangunan bangsa.

Banyak orang beranggapan sekarang bahwa Intelektual jauh lebih penting dari segalanya. Ada sebuah istilah ”Ilmu tanpa Karakter bagai Samurai tanpa Bushido”. kami dapatkan waktu mengikuti semnar di kampus tercinta

Seperti Ini Kira2 Materinya :
Pendidikan selama beberapa dekade belakangan ini telah bertumpu hanya pada aspek intelektualitas. Hal ini tampak pada berbagai kasus remaja yang diangkat oleh media masa, seperti tawuran, siswa, kecurangan dalam pelaksanaan UN, penggunaan Napza, dan pergaulan bebas. Penelitian mutakhir dan realitas yang terjadi di masyarakat menunjukkan bahwa bukan hanya penguasaan intelektual saja yang menunjang kesuksesan seseorang. Aspek kecerdasan emosi dan spiritual justru lebih besar pengaruhnya terhadap kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Di sinilah tampak urgensi dari pendidikan karakter. Selanjutnya ia mengatakan: “Saya semakin merasakan betapa pentingnya pendidikan karakter setelah mempelajari ilmu dan semangat samurai. Para samurai memiliki dua hal, yaitu Wasa dan Do. Wasa artinya skill sedangkan Do artinya The way of life (Prinsip hidup) yang dikenal Bushido. Para samurai memiliki senjata yang disebut Katana atau Pedang. Pedang yang tajam tentu mengerikan dan berbahaya jika dimiliki oleh orang yang tidak bermoral. Pedang menjadi tidak berbahaya ketika pemegangnya mempunyai sifat yang disebut Bushido, yaitu amanah, pengasih, santun, sopan, mulia, hormat, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan seperti kimia, fisika, akutansi, hukum, adalah ibarat pedang yang bisa membinasakan. Jika ilmu tersebut dikuasai tetapi tanpa dibekali karakter, yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki adalah ilmu fisika tanpa nurani. Begitu pula dengan white phospor yang mematikan anak-anak di Palestina. Banyaknya orang tidak bersalah dijebloskan ke dalam penjara, adalah karena orang yang menguasai ilmu hukum tidak disertai dengan sifat keadilan”.
Sekilas tentang Bushido: Seorang pembesar Jepang sedang berada dalam perjalanan. Ia melihat sebongkah emas yang tampaknya jatuh dari sebuah karavan yang lewat sebelumnya. Saat itu, ia berpapasan dengan pencari kayu yang sedang memikul bebannya. “Ambillah emas itu untukmu”, kata pembesar tadi pada pencari kayu. Ia merasa iba dengan orang yang tampak hidup susah itu hingga ingin membantu meringankan bebannya. Bukan mengambil emasnya, pencari kayu itu justru menasehati sang pembesar. “Tuan”, ucapnya. “Tuan seperti seorang terhormat. Mengapa bicara tuan begitu rendah. Saya memang seorang pencari kayu, tapi saya bangga hidup dengan hasil keringat saya sendiri. Jangan pernah tuan meminta saya mengambil yang bukan hak saya”. Sang pembesar terkesima dengan sikap pencari kayu itu. Ia orang biasa, tapi menjaga tegak karakter Bushido yang menjujung tinggi integritas dan kejujuran yang menjadi prinsip bushido. Kemajuan secara menyeluruh saat tidak lepas dari spirit bushido tersebut. Kisah itu ditulis oleh Yagama Soko (1622-1685), salah seorang penulis terpenting “Spirit Bushido atau Budaya Ksatria Jepang” (Zaim Uchrowi, 2009: 4). Spirit itu teguh dari masa ke masa hingga kini. Spirit itu bukan hanya di kalangan masyarakat terhormat, namun juga di masyarakat umum. Gambaran bahwa di Jepang setiap dampet yang jatuh umumnya akan kembali dalam keadaan utuh merupakan refleksi teguhnya integritas dan kejujuran.

Mudah2an menginspirasi bapak dan ibu pembaca semua, khusunya bagi bapak ibu pendidik, mari pak/bu kita bahu membahu menciptakan generasi yang istiqomah, tidak hanya cerdas intelektual tetapi juga moral dan spiritualnya…SEMANGAT…


PLAN, DO, CHEEK, ACTION = CONTINUOUS IMPROVEMENT

Kaizen (改善?), Japanese for “improvement”, or “change for the better” refers to philosophy or practices that focus upon continuous improvement of processes in manufacturing, engineering, game development, and business management. It has been applied in healthcare, psychotherapy, life-coaching, government, banking, and other industries. When used in the business sense and applied to the workplace, kaizen refers to activities that continually improve all functions, and involves all employees from the CEO to the assembly line workers. It also applies to processes, such as purchasing and logistics, that cross organizational boundaries into the supply chain. By improving standardized activities and processes, kaizen aims to eliminate waste (see lean manufacturing). Kaizen was first implemented in several Japanese businesses after the Second World War, influenced in part by American business and quality management teachers who visited the country. It has since spread throughout the world and is now being implemented in many other venues besides just business and productivity.


ASEAN COMUNITY 2015, Are You Ready?

At its Ninth Summit in October 2003 the Association of South East Asian Nations (ASEAN) announced its intention to create an ASEAN Community based upon three pillars: ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community and an ASEAN Socio-Cultural Community. A year later ASEAN established the Vientiane Action Programme to realise this goal.

(more…)


5 COMPONENT OF PYSICAL EDUCATION

Physical Education has 5 components:

  1. Cardiovascular Fitness is the ability of the heart, lungs and vascular system to deliver oxygen-rich blood to working to working muscles during sustained physical activity.
  2. Muscular Strength is the amount of force a muscle or group of muscles can exert against a heavy resistance.
  3. Muscular Endurance is the ability of a muscle or muscle group to repeat a movement many times or hold a particular position for an extended period of time.
  4. Flexibility is a degree to which an individual muscle will lengthen.
  5. Body Composition is the amount of fat in the body compared to the amount of lean mass.


Latihan Kepemimpinan Siswa 2011


Orientasi Pendidikan Kepramukaan Sebagai Wahana Belajar dan Rekreasi

SMK SMTI Bandar Lampung, pada tanggal 14 – 16 Oktober 2011 lalu mengadakan Orientasi Pendidikan Kepramukaan, kegiatan yang diikuti oleh siswa – siswi Kelas X (Sepuluh) ini mengambil tempat di Bumi Perkemahan Cabang (Bupercab) Ds. Kempayang, Rajabasa, Bandar Lampung. Selain sebagai wahana belajar bagi para peserta kegiatan OPK ini juga digunakan sebagai wahana rekreasi edukatif. Siswa diajarkan berbagai bentuk kegiatan kompetitif dan jelajah alam.



SMK SMTI Raih Juara 1 Olimpiade Sains Terapan Tingkat Prop Lampung

SMK SMTI Bandar Lampung kembali mendapat kesempatan menjadi duta Propinsi Lampung dalam ajang bergengsi Olimpiade Sains Terapan Tingkat Nasional 2011 yang akan diselenggarakan di Kota Yogyakarta 25 – 26 Oktober 2011 Mendatang. Keberhasilan Siswa SMK SMTI Bandar Lampung tersebut setelah berhasil mendapatkan Juara I Pada ajang serupa di tingkat Propinsi Lampung pada tanggal 17 Oktober 2011 Silam yang diselenggarang Di BPKP Dinas Pendidikan Prov. Lampung


PENGUMUMAN & INFORMASI

1. DOWNLOAD MUSIC UJIAN PRAKTIK KELAS X POCO-POCO.wma

2. DOWNLOAD MUSIC UJIAN PRAKTIK KELAS XI Lagu Senam – REMIX.mp3

- DOWNLOAD KELOMPOK SENAM 2013 Kelas XI , KELOMPOK SENAM 2013 Kelas X


SEA GAMES KE-26 INDONESIA

Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara 2011 (disingkat SEA Games 2011) direncanakan akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang, Indonesia, pada 11-22 November 2011. Ibukota Jakarta sudah pernah menyelenggarakan 3 kali SEA Games, yaitu pada tahun 1979, 1987, dan 1997. Palembang akan mencatatkan sejarah sebagai kota ketiga yang menyelenggarakan SEA Games di luar ibukota negara setelah Chiang Mai dan Nakhon Ratchasima, Thailand.

Logo SEA Games 2011 adalah burung Garuda yang juga merupakan lambang negara Indonesia. Garuda secara fisik melambangkan kekuatan dan kepak sayapnya mempresentasikan kemegahan dan kejayaan. Tarikan guratan hijau berbentuk gunung melambangkan alam pegunungan Indonesia dan di bagian bawah guratan gelombang berwarna biru melambangkan samudera nusantara.Disamping itu, burung Garuda di ranah Global dikenal secara luas dan langsung terasosiasikan dengan Indonesia.

Maskot resmi SEA Games 2011 ini adalah Modo dan Modi, sepasang komodo. Maskot ini diadopsi dari binatang komodo sebagai hewan purba endemik kebanggaan Indonesia, yang terdapat di Taman Nasional Komodo, meliputi pulau Komodo, pulau Rinca, dan pulau Padar, Nusa Tenggara Timur. Modo adalah komodo jantan yang mengenakan kostum tradisional Indonesia berwarna biru dengan selempang sarung batik. Sementara, Modi adalah komodo betina yang mengenakan kebaya merah juga dengan selendang dan kain batik. “Modo” adalah singkat dari nama Komodo, sementara “Modo-Modi” adalah ejaan modifikasi dari Muda-Mudi yang berarti “pemuda-pemudi”, dalam bahasa Indonesia yang berarti remaja-remaja Indonesia. Modo dan Modi ini mempunyai sifat pekerja keras, jujur, adil, ramah, bersahabat, dan sportif. Sifat Modo dan Modi yang serba positif dan mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia ini diharapkan dapat melestarikan keharmonisan kerjasama dan persahabatan sesama negara peserta SEA Games. Maskot ini telah diperkenalkan tepat 200 hari sebelum SEA Games XXVI yaitu pada hari Senin, 25 April 2011 di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, dan di Monumen Selamat Datang di Jakarta Pusat.

Sebelumnya, pemerintah Palembang telah memilih gajah sumatera sebagai maskot melalui sebuah sayembara terbuka, tapi ada saran dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan KONI untuk menggunakan burung Rajawali. Setelah terpilihnya komodo, maka gagasan maskot gajah sumatera maupun rajawali disingkirkan. Keputusan untuk memilih Komodo sebagai maskot SEA Games 2011 ini, dipilih sebagai upaya Indonesia untuk mempromosikan Taman Nasional Komodo sebagai kandidat New7Wonders of Nature (Tujuh Keajaiban Alam yang baru).


HARI OLAHRAGA NASIONAL 9 SEPTEMBER 2011

SAMBUTAN
MENTERI NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA
REPUBLIK INDONESIA
PADA UPACARA BENDERA PERINGATAN
HARI OLAHRAGA NASIONAL XXVIII TAHUN 2011
TANGGAL 9 SEPTEMBER 2011

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Salam Sejahtera dan Salam Olahraga

Mengawali sambutan ini marilah kita panjatkan rasa syukur kepada Allah SWT-Tuhan YME sehingga setiap tanggal 9 September kita dapat memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Enam Puluh Tiga Tahun lalu, pada tahun 1948, pendiri bangsa dan tokoh-tokoh olahraga Indonesia menjadikan olahraga sebagai bagian dari perjuangan kebangsaan dengan mengadakan PON pertama di Solo. Sekarang, konteks olahraga sebagai alat perjuangan bangsa masih sangat relevan. Olahraga adalah juga medan perjuangan untuk mengharumkan nama bangsa dan Negara di berbagai ajang internasional. Dengan olahraga kita kibarkan Bendera Merah Putih dan kita kumandangkan lagu Indonesia Raya.

(more…)


SMTI Raih Juara Pertama Lomba Kompetensi Siswa SMK Tingkat Provinsi Lampung


DOWNLOAD PEMBAHASAN SOAL PENJASORKES

DOWNLOAD PEMBAHASAN SOAL PENJASORKES KELAS XI :

PEMBAHASAN SOAL KELAS XI

PEMBAHASAN SOAL KELAS X


MELATIH KEPEMINPINAN SISWA MELALUI KEGIATAN KEPRAMUKAAN

Bagi sebagian orang ( siswa / pelajar ) kegiatan Pramuka adalah kegiatan yang membosankanm, namun disisi lain kegiatan ini dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan terhadap diri siswa.


BAHAYA ROKOK BAGI KESEHATAN

Apakah Anda termasuk orang yang mempunyai kepedulian yang besar dengan masalah kesehatan? Jika ya, maka tulisan ini sangat berguna bagi Anda. Tahukah kita, tanpa kita sadari, lingkungan sekitar kita, termasuk barang-barang kebutuhan sehari-hari yang kita gunakan, dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan tubuh kita. Tanpa sadar kita telah menghirup bahan-bahan kimia berbahaya yang berasal dari benda-benda yang terdapat di tempat tinggal kita. Berikut ini penulis uraikan beberapa bahan kimia berbahaya yang sering terkontaminasi dengan tubuh kita tanpa kita sadari. Meskipun kadar bahan-bahan kimia yang masuk ke udara tersebut belum melebihi ambang batas yang diperbolehkan, namun jika terjadi paparan dalam waktu yang lama dan terus menerus dapat berpengaruh bagi kesehatan kita.

1. Asbes
Asbes merupakan serat mineral silika yang bersifat fleksibel, tahan lama dan tidak mudah terbakar. Asbes banyak digunakan sebagai penghantar listrik dan penghantar panas yang baik. Asbes banyak digunakan sebagai isolator panas dan pada pipa saluran pembuangan limbah rumah tangga, dan bahan material atap rumah. Asbes banyak digunakan dalam bahan-bahan bangunan. Jika ikatan asbes dalam senyawanya lepas, maka serat asbes akan masuk ke udara dan bertahan dalam waktu yang lama.

2. Bioaerosol
Kontaminan biologi seperti virus, bakteri, jamur, lumut , serangga atau serbuk sari tumbuhan. Kontaminan biologi tersebut jika dihembus oleh angin akan masuk ke udara dan mencemari udara bersih.

3. Formaldehid
Formaldehid merupakan aldehid sederhana. Gas formaldehid tidak berwarna dan diemisikan dari bahan-bahan bangunan, industri rumah tangga atau proses pembakaran. Formaldehid juga terdapat pada produk kayu yang dipres, papan, papan dinding, tekstil (seperti pada karpet dan pakaian). Formaldehid dapat masuk ke udara akibat terjadi pengikisan dan penguapan akibat panas yang tinggi.

4. Bahan-bahan pertikulat
Dalam kehidupan sehari-hari pertikulat dikenal dengan istilah debu yang berterbangan di udara. Partikulat juga bisa ditemui dalam bentuk logam-logam berta yang jika terhirup oleh manusia akan mengakibatkan penyakit.

5. Senyawa organik volatil (Volatil Organic Compound)
Senyawa organik volatil (VOC) mudah menguap pada suhu kamar. VOC sering ditemui dalam bentuk aerosol yang terdapat pada pembersih, cat, vernis, produk-produk kayu yang di-pres, pestisida, dan semir.

6. Karbon monoksida (CO)
Karbon monoksida atau CO adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah 129oC. Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan fosil dengan udara, berupa gas buangan. Kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam uadra relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Selain itu dari gas CO dapat pula terbentuk dari proses industri. Secara alamiah gas CO juga dapat terbentuk, walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lain-lain. Secara umum terbentuk gas CO adalah melalui proses berikut ini : (more…)


MOTOR LEARNING

Menstabilkan kemampuan-kemampuan dan keterampilan motorik bukanlah suatu pekerjaan yang gampang. Apalagi hal ini berkaitan dengan upaya peningkatan dan pengembangan kedalam suatu bentuk prestasi. Prestasi itu merupakan suatu yang sangat kompleks dan sensitif. Dikatakan komplek karena prestasi membutuhkan banyak pertimbangan dan kemampuan analisis yang tinggi, baik terhadap aspek-aspek yang mempengaruhi secara positif, apalagi terhadap hal-hal yang negatif. Untuk dapat membantu guru pendidikan jasmani dalam menyusun stategi pembelajaran dan mengendalikan proses pembelajaran secara optimal, maka diperlukan pengetahuan dan pengalaman atau pemahaman tentang ciri-ciri fase belajar motorik tingkat tiga.
Ciri-ciri Umum Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga
Tugas seorang guru pendidikan jasmani pada fase belajar tingkat ketiga ini tidak dapat dikatan ringan bila dibandingkan dengan fase belajar tingkat pertama atau kedua, hal ini perlu dipahami,karena pada semua tingfkat belajar, guru pendidikan jasmani mempunyai tugas dan tujuan yang berbeda-beda.
Fase belajar tingkat pertama, guru mempunyai tugas yang berat, yaitu untuk memperkenalkan kepada peserta didik sesuatu yang baru dan berusaha untuk mengendalikan proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat menguasai hal-hal yang baru dan batas-batas tertentu.
Fase tingkat kedua, guru memiliki tugas untuk menambah dan memperhalus keterampilan peserta didik. Fase ini merupakan fase perentara atau transisi yang menentukan prestasi tinggi seseorang.
Fase belajar motorik tingkat tiga, guru mempunyai tugas untuk menstabilkan kemampuan-kemampuan motorik yang dikuasai serta mengembangkan berbagai situasi yang bervariasi.
Gerakan-gerakan yang dituntut untuk mengerjakan suatu tugas dapat dilakukan tampa merasa ada keraguan. Suatu hal yang perlu mendapat perhatian dari guru pendidikan jasmani adalah bahwa perbedaan kemampuan prestasi dalam pelaksanaan suatu gerakan yang nyata. Kemampuan prestasi tersebut kelihatan hampir sama, bila pelaksanaan gerakan dilakukan pada situasi dan kondisi yang tidak berubah-rubah.
Berdasarkan dari uraian di atas, dapat diperoleh suatu defenisi perbedaan kemampuan prestasi seseorang yang berada pada fase belajar pada tingkat tiga adalah kemampuan yang cukup tinggi dalam mentransper keterampilan motorik yang telah dikuasai ke dalam berbagai kondisi dan situasi. Kemampuan seseorang yang berada pada belajar tingkat tiga dalam mengambil atau merubah keputusan dalam waktu yang cukup cepat seta mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk mentransfer keterampilan yang telah dikuasainya merupakan hasil perbaikan yang didapatnya melalui peningkatan dalam berbagi aspek, antara lain:
– Perbaikan dalam mengantisipasi suatu situasi dan kondisi
– Perbaikan peran analisator kinestetik, sehingga ia mampu mengendalikan dan mengatur implus-implus tenaga pada otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan
– Perbaikan fungsi dan peran indera penerima impormasi
– Perbaikan-perbaikan dalam pengolahan impormasi yang diterima, perbaikan tersebut dapat dilihat dari semakin tepatnya keputusan-keputusan yang diambil. Hal ini dapat diamati pada ketepatan dan kemantapan penampilan gerak.
Kemampuan dalam mengambil dan merubah keputusanyang tepat dalam waktu yang singkat untuk menghadapi berbagai situasi oleh individu yang berbeda pada fase belajar tingkat ketiga merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman motorik yang berhasil dikumpulkan dan disimpan dalam ingatan motorik pada pusat simpanan motorik. Pengalaman motorik yang tersimpan semakin membantu sipelaku gerakan untuk mengambil keputusan dalam waktu yang cepat, upaya menghadapi situasi dan kondisi tertentu.
Ciri-ciri Khusus Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga
1.Terbentuknya Kemampuan Automatisasi
Kemampuan automatisasi ini merupakan tingkat kemampuan yang tinggi dalam penguasaan keterampilan motorik olahraga. Terbentuknya kemampuan automatisasi ini hanya mungkin, bila individu yang bersangkutan benar-benar telah menjiwai dan memiliki bermacam-macam bentuk gerakan dalam suatu cabang olahraga tertentu.
Kemampuan automatisasi ini erat hubungannya dengan program gerakan. Program gerakan yang telah tersimpan sebagai ingatan motorik, maka individu yang bersangkutan hanya tinggal merealisasikannya, sebagai contoh kongkrit misalnya gerakan kaki dan ayunan tangan pada saat berjalan.
Keadaan demikian menyebabkan gerakan-gerakan tersebut dimiliki secara mendasar oleh seseorang. Bila suatu saat dibutuhkan, maka program gerakan tersebut siap untuk direalisasikan ke dalam bentuk nyata yaitu gerakan.
2.Bayangan dan Konstuksi Bayangan Gerakan
Kecepatan dalam memilikidan mengkonstruksi bentuk-bentuk gerakan baru akibatnya dari perubahan situasi secara tiba-tiba atau kecepatan dalam pengaturan dan pengendalian kembali penyimpangan-penyimpangan gerakan. Perbaikan dalam aspek ini tdak hanya terlihat dari kecepatan mengkonstruksi program gerakan, tetapi juga berhubungan dengan ketepatan dari gerakan-gerakan yang dikonstruksi tersebut.
Dalam hal ini dapat kita amati didalam permainan bola basket. Seorang pemain telah membuat program gerakan untuk melakukan shooting, tetapi dengan tiba-tiba dihalangi oleh pemain lawan, pemain yang akan melakukan shooting tersebut dengan cepat dapat merobah program menjadi gerakan lain, seperti mengoper bola pada salah satu teman. Untuk pelaksanaan suatu gerakan adalah menyertai aspek-aspek yang berhubungan dengan program gerakan.
Misalnya dalam melaksanakan lompat jauh, seseorang akan melaksanakan gerakan
– Gerakan awalan
– Gerakan menolak
– Gerakan melayang
– Gerakan mendarat
3.Irama Gerakan
Berkaitan dengan irama gerakan, maka bentuk kerja yang diperlihatkan dalam pelaksanaan gerakan pada fase tingkat ketiga, ini terlihat semakin mulus dan lancar, sehinga gerakan-gerajan yang dilakukan cukup efesien dan efektif baik dalam hal pemakaian ruangan, maupun waktu dan tenaga. Ini merupakan hasil dari faktor peningkatan: perbaikan kemampuan antisipasi gerakan, peningkatan kualitas peran dan fungsi analisator kinestik, sehingga memungkinkan pemberian implus tenaga kepada otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan.
4.Kecepatan Gerakan
Individu yang berada pada fase belajar tingkat ketiga mampu melakukan gerakan-gerakan yang dituntut dengan cepat. Bahkan situasi dan kondisi memaksa, dia mampu melakukan perubahan-perubahan bentuk gerakan dengan cepat. Suatu keistimewaan khusus yang dimiliki oleh individu yang berada pada fase belajar tingkat ke tiga adalah kemampuannya untuk memanipulasi bentu-bentuk gerakan.
Bentuk gerakan yang pertama adalah program yang sebenarnya yakni bentuk-bentuk gerakan atau bentuk-bentuk aksimotorik yang akan dilakukan untuk pencegahan tugas gerakan atau untuk meraih hasil yang dicapai. Sedangkan bentuk gerakan yang kedua adalah bentuk gerakan yang akan menunjang atau memperlancar program gerakan yang sesungguhnya (bentuk tipuan).
C. Ciri-ciri Kemampuan Penerimaan dan Pengolahan Impormasi Fase Belajar Tingkat Tiga.
Ciri-ciri khusus kemampuan penerimaan dan pengolahan imformasi individu yang berada pada fase belajar tingkat tiga adalah semakin meningkatnya fungsi dan peran analisator informasi kinestik. Dengan pengertian lain terjadinya peningkatan kepekaan analisator kinestik dalam penerimaan informasi.
Dengan demikian semakin meningkatnya kualitas kepekaan analisator kinestik berarti individu yang berada pada fase belajar tingkat ke tiga akan banyak menerima feet-back tentang jalannya gerakan dari analisator kinestik. Dengan pengertian lain bahwa individu yang bersangkutan akn banyak menerima umpan balik.
D.Ciri-ciri Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga dan Implikasinya Kedalam Proses Pembelajaran.
Fase ini untuk menstabilkan kemampuan kordinasi halus yang telah dikuasai. Proses pembelajaran diarahkan untuk pembentukan kemampuan transper dari keterampilan-keterampilan motorik yang telah dikuasai tersebut pada berbagai situasi dan kondisi. Oleh karena itu, haruslah menjadi perhatian guru pendidikan jasmani akan memberikan latihan-latihan yang sesiai dengan karakter-karakter kemampuan yang di milki setiap individu.
Penyesuain tingkat kesulitan materi pengajaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Materi yang disajikan dalam bentuk-betuk latihan yang akan diberikan harus dapat meransang kemampuandan keterampilan motorik didik untuk mengalami peningkatan kualitas kemampuan dan keterampilan motorik yang telah mereka kuasai.
Aspek lain yang harus mendapatkan perhatian dari guru pendidikan jasmani adalah penekanan latihan. Penekanan latihan dalam proses pembelajaran pada fase belajar tingkat ketiga ini harus lebih diarahkan pada peningkatan kemampuan peserta didik bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mendeteksi kesalahan-kesalahan gerakan yang terjadi pada pelaksanaan gerakan berlangsung.
Bentuk latihan lain yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran adalah latihan dalam bentuk mental training. Misalnya memberikan latihan untuk membangun kontustruksi-konstruksi gerakan atau menyusun program gerakan, atau latihan-latihan yang dapat mengarahkan pe4ningkatan kemampuan peserta didik dalam mengambil keputusan secara tepat dan cepat untuk mengatasi berbagai situasi yang bermasalah. Untuk memantapkan hasil yang diperoleh dari latihan mental training diberikan beberapa kali, lalu dilanjutkan dengan latihan-latihan pelaksanaan sesuai dengan program gerakan. Latihan mental ini akan lebih bermanfaat lagi bila latihan diarahkan pada perhitungan kecepatan bagian gerakan yaitu:
– Kemampuan mengantisipasi perubahan situasi yang akan terjadi dan efek dari perubahan tersebut.
– Kempuan ketepatan gerakan.
– Kemampuan melaksanakan gerakan secara ekonomis, baik dari segi waktu, tenaga maupun ruang yang terpakai.
– Kemampuan pengambilan keputusan dengan cepat
Proses pembelajaran adalah prinsip penyelenggaraan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pembelajaran cbsa pendidikan jasmani di sekolah guru masih dominan dalam pengambilan keputusan baik dalam menentukan bentuk-bentuk proses intekrasi yang terjadi maupun dalam didalam menetukan skenario proses penbelajaran itu sendiri. Selain itu ada juga guru pendidikan jasmani yang terlalu luas dalam menerjemahkan atau mengambil pengertian tentang prinsip CBSA. Ini sering membiarkan peserta didiknya dalam penyelenggaraan pengajaran pendidikan jasmani melakukan apa saja yang di inginkan mereka.
Pada prinsip CBSA menuntut keaktifan guru dan murid dalam proses pembelajaran. Tugas guru dalam penyelenggaraan CBSA adalah memikirkan, menganalisis situasi dan kondisi proses pembelajaran untuk mengarahkan atau memungkinkan peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Pendukung guru dalam pembelajaran CBSA antara lain:
 Bergerak, berlari, melompat, berkejar-kejaran sudah merupakan kebutuhan alami para peserta didik.
 Situasi pengajaran pendidikan jasmani tidak sama dengan bidang study yang lain.
 Hal yang disajikan dapat meransang stimulus terhadap peserta didik untuk bergerak.
 Mengajak peserta didik untuk bersipat sportif.
 Menimbulkan semangat, melalui psikis yang dimilikinya.


Sistematika Senam Aerobic

Pada dasarnya sistematika mengajar senam aerobik  adalah bagaimana kita mampu  menerapkan prinsip-prinsip ilmu kepelatihan  dengan benar, untuk mencapai tujuan  mengajar senam aerobik  intinya adalah  bagaimana kita bermain-main dengan intensitas, bagaimana kita menggunakan atau mengatur intensitas latihan untuk sesi awal latihan, bagaimana kita mampu mengatur intensitas latihan saat kita berada pada puncak latihan dan bagaimana kita mengatur intensitas latihan ketika kelas akan berakhir. Kalau berorientasi pada waktu yang tersedia dalam sesi pembelajaran, maka  bagaimana kita mampu mengatur intensitas pada kesempatan mengajar dengan waktu yang relatif pendek, juga sebaliknya   bagaimana kita mampu mengatur intensitas mengajar  pada kesempatan mengajar dengan waktu yang relatif lama. Jika kita berorientasi pada frekuensi latihan atau kekerapan, maka ini berhubungan dengan bagaimana kita mengatur intensitas kalau kita melakukan latihan  dua kali latihan dalam seminggu atau bagaimana kita mengatur intensitas latihan kalau kita melakukan latihan lima kali dalam seminggu.

Pada kesempatan mengajar di suatu kantor pemerintah, sebelum kelas senam aerobik dimulai saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang peserta yang sudah lama melakukan  olahraga  senam aerobik, orang tersebut meminta saya  agar jangan mengajar senam aerobik, karena pada kesempatan-kesempatan sebelumnya dia telah mengikuti kelas aerobik dengan keadaan yang tidak nyaman, dia merasa mengikuti kelas aerobik tetapi   mendapatkan rasa capek  hanya pada bagian-bagian tubuh tertentu, pada akhir bincang-bincang dia menyarankan saya untuk mengajar Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) saja, saat itu  saya memang banyak terlibat dalam penyusunan berbagai senam-senam paket SKJ, tetapi memenuhi permintaan  untuk mengajar SKJ sepertinya tidak mungkin karena saya tidak mempunyai persiapan apapun, akhirnya  saya menyetujui untuk   mengajar SKJ tetapi pada pertemuan berikutnya, selama kurang lebih 50 menit  akhirnya saat itu saya mengajar senam aerobik, perbincangan dengan peserta tadi berlanjut usai kelas  senam aerobik, yang intinya dia meminta saya untuk memberikan senam aerobik  kembali,  saya bilang kenapa?…  ternyata dia merasakan nyaman bergabung dengan kelas aerobik, seperti melakukan senam SKJ yang memang sudah di atur sistematikanya, bahkan dia merasa lebih enjoy dengan jenis musik yang variatif. Kesimpulan dari cerita tadi adalah seorang pengajar senam aerobik harus sadar apa yang dilakukan, bagaimana dia harus mengatur intensitas  latihan, karena banyak kejadian pengajar dengan gagahnya melakukan gerakan-gerakan tetapi hanya untuk dirinya sendiri peserta mencoba mengikutinya dengan kocar-kacir pada akhirnya peserta hanya mampu melihat  saja.

Berikut  adalah contoh sistematika kelas senam aerobik:
1. Pemanasan, Dilakukan kurang lebih selama 15 menit, pada sesi  ini mencakup latihan-latihan:
a. Isolation, pada  tahap latihan ini biasanya posisi kita tidak berpindah kemana-mana, misalnya posisi half squat (kaki dibuka selebar satu setengah bahu lutut agak ditekuk) gerakan yang dilakukan hanya terbatas pada persendian dan otot lokal saja. Seperti menekuk dan meluruskan tungkai, memutar  bahu, menaikan atau menurunkan bahu, menengok ke kanan atau kiri, menundukkan kepala, menggerakkan otot dada atau punggung, melatih persendian kaki. Latihan pada tahap ini tentunya dilakukan dengan menggunakan intensitas yang rendah, pada sesi ini  latihan bertujuan untuk menaikkan suhu, dengan menyiapkan otot-otot lokal dan persendian  untuk mampu melakukan latihan berikutnya.

b. Full body movement, menggerakkan keseluruhan bagian otot tubuh gerakan bounching menekuk dan meluruskan  tungkai dengan kombinasi gerakan yang bertujuan untuk melatih semua otot dan persendian, ingat orientasikan  melatih semua yang  kita punya. Gerakan-gerakan memindahkan titik berat badan atau berpindah tempat juga bisa  dilakukan seperti tap side, easy walk, marching forward atau marching backward, melakukan gerakan single atau double step  tentunya dengan kombinasi gerakan tangan yang relatif mudah. Pada tahap ini  kita harus tetap pada pengaturan intensitas, jangan terlalu memaksakan untuk menaikkan intensitas terlalu tinggi kita gunakan otot tubuh, atau jangan hanya melatih bagian-bagian tertentu dari otot atau persendian sehingga hanya akan menimbulkan kelelahan yang berlebihan pada bagian tersebut, jadikan sesi latihan ini layaknya kita melakukan salam perkenalan, hangatkan suasana dengan  memberikan gerakan-gerakan yang nyaman sehingga suhu tubuh kita sedikit demi sedikit meningkat dan  siap untuk diregangkan.

c. Stretching,  usahakan agar tetap menjaga gerakan yang ditampilkan baik secara teknik, tujuan dan intensitas, karena pada tahap ini peregangan yang dilakukan adalah peregangan dinamis (dynamic stretch). Lakukan peregangan dengan teknik yang betul dan lakukan peregangan dengan menggunakan daerah gerak yang betul dan yang lebih penting adalah untuk tetap menjaga intensitas latihan tetap terjaga, kunci untuk tetap terjaga intensitas latihan pada tahap peregangan dinamis  adalah melakukan peregangan pada daerah gerak sendi yang baik dan betul, lakukan peregangan pada panjang otot yang sempurna dan yang juga harus dilakukan untuk tetap terjaga intensitas latihan, pada tahap ini adalah lakukan peregangan dengan bergerak atau menggunakan irama, kita bisa melakukan sikap peregangan dengan mengunakan bantuan musik satu hitungan, dua hitungan atau empat hitungan. Untuk memasuki pada sesi latihan selanjutnya yang lebih intens maka kita harus sadar bagian-bagian tubuh mana saja yang harus diregangkan, agar kita bisa melakukan latihan tahap selanjutnya dengan aman, maka secara umum ada beberapa bagian tubuh yang harus diregangkan yaitu:
•    Paha depan
•    Paha belakang
•    Betis
•    Pantat
•    Punggung

2. Latihan Inti I (cardiorespiratory), latihan ini ditujukan untuk membakar lemak, melatih pernafasan serta daya tahan otot tubuh, dilakukan + selama 20 menit, terdiri dari latihan-latihan:
a. Pre aerobik (low impact) latihan untuk mengantarkan kita ke dalam tujuan kelas senam aerobik yang kita targetkan. Kalau pada tahap full body movement kita telah membuat blok gerakan, maka kita dapat menggunakan blok gerakan tersebut pada sesi pre aerobic, tetapi jangan lupa untuk menaikkan intensitas  atau bermain-main dengan intensitas, untuk target denyut nadi  naikkan intensitas latihan perlahan-lahan, selalu ingat untuk tidak membuat rasa capek yang mendadak, berilah porsi yang seimbang untuk kerja otot dan persendian sehingga kelas akan tetap berjalan dengan keceriaan tanpa merasa tersiksa dengan rasa capek juga  dengan penggunaan gerakan atau blok gerakan yang   bisa diikuti oleh peserta.

b. Peak aerobik, pada sesi inilah  target yang kita capai harus dipertahankan untuk beberapa saat, misalnya tujuan yang hendak dicapai adalah latihan untuk melatih sistem peredaran darah dan pernafasan lewat kelas mix impact  maka yang harus menjadi bahan pertimbangan adalah penggunaan waktu dan pemilihan gerakan. Yang harus diingat pada semua jenis kelas aerobik adalah  kita tetap bergerak dalam durasi tertentu dengan penggunaan udara secara bebas, artinya kita bergerak tanpa merasa terengah-engah kita tetap mampu menghirup oksigen degan bebas saat aktivitas senam aerobik.

c. Post aerobik (low impact), pemilihan gerakan yang paling  tidak menguras konsentrasi adalah kalau kita menggunakan gerakan-gerakan yang ada pada sesi pre aerobic, yang perlu dingat bagaimana kita mengatur intensitas,  menurunkan intensitas secara perlahan adalah  bagian harus kita lakukan agar pada sesi selanjutnya  kita  lebih siap untuk melakukan latihan kekuatan atau latihan  peregangan. Di lapangan banyak instruktur  yang memberikan gerakan-gerakan dengan iringan musik dangdut, musik daerah, musik hiphop, musik salsa dan sebagainya. Hal ini boleh-boleh saja dilakukan, sekali lagi yang paling penting adalah bagaimana kita mampu menurunkan intensitas  sehingga kita akan lebih siap dan tenang untuk melakukan sesi berikutnya. Kalaupun setelah post aerobik kelas akan langsung  dilanjutkan dengan peregangan terakhir maka sekali lagi yang terpenting adalah  bagaimana kita mampu mengatur intensitas sehingga kita mampu mengakhiri kelas dengan tenang.

3. Latihan Inti II (challestenic), dilakukan + 15 menit, terdiri dari latihan-latihan:
a.    Pengencangan
b.    Penguatan (strenght) dan
c.    Kelentukan (flexibility)

4. Pendinginan (cooling down), dilakukan + selama 10 menit, terdiri dari latihan-latihan:
a.    Dynamic stretching
b.    Static stretching


Pengertian dan Perlunya Pedagogik

Apa itu pedagogik?

Bagi pendidik, istilah ini pasti sudah tidak asing lagi, dan ilmunya menjadi sebuah acuan dalam praktek mendidik anak. Jika dilihat dari segi istilah, pedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin).

Dari dua istilah diatas timbul istilah baru yaitu paedagogos dan pedagog, keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yaitu sebutan untuk pelayan pada zaman Yunani kuno yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah setelah sampai di sekolah anak dilepas, dalam pengertian pedagog intinya adalah mengantarkan anak menuju pada kedewasaan.

Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Lalu apa sih yang menjadi kesalahpahaman istilah Pedagogik?

Kadang sebagian orang mengartikan bahwa pedagogik merupakan ilmu pendidikan, pemaknaan ini tidak berarti salah namun juga tidak sepenuhnya benar, mengapa? Karena jika ditinjau dari makna pendidikan secara luas maka Pendidikan adalah hidup. Lebih tepatnya segala pengalaman di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.

Dari pengertian diatas maka bisa dipahami ada beberapa tingkatan dalam pendidikan, sehingga menimbulkan cabang ilmu pendidikan yang dikembangkan para ahli yaitu pendidikan pada anak yang disebut Pedagogik, ilmu pendidikan bagi orang dewasa yang disebut Andragogi serta pendidikan bagi ilmu pendidikan manula yang disebut Gerogogi.

Jelaslah bahwa Pedagogik terbatas pada ilmu pendidikan anak atau ilmu mendidik anak. Maka timbul pertanyaan lain, kapankah seorang anak masuk dalam kawasan pedagogik? Menurut M.J. Langeveld, pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan, syaratnya yaitu terlihat pada kemampuan anak memahami bahasa, karena sebelum itu dalam pedagogik anak tidak disebut telah dididik yang ada adalah pembiasaan. Sedang batas atasnya yaitu ketika anak telah mencapai kedewasaan atau bisa disebut orang dewasa.

Jadi, pengertian bahwa pedagogik adalah ilmu pendidikan berarti benar dalam pengertian pendidikan pedagogik, namun berarti salah jika mengacu pada makna pendidikan secara luas.

Kemudian, mengapa Pedagogik diperlukan? Padahal pedagogik yang merupakan rangakaian teori kadang berlainan dengan praktek di lapangan? Ada dua alasan yang melandasinya, yaitu bahwa pedagogik sebagai suatu sistem pengetahuan tentang pendidikan anak diperlukan, karena akan menjadi dasar bagi praktek mendidik anak. Selain itu bahwa pedagogik akan menjadi standar atau kriteria keberhasilan praktek pendidikan anak. Kedua, manusia memiliki motif untuk mempertanggungjawabkan pendidikan bagi anak-anaknya, karena itu agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, praktek pendidikan anak memerlukan pedagogik sebagai landasannya agar tidak jadi sembarangan.

Untuk meyakinkan lebih jauh, pedagogik secara jelas memiliki kegunaan diantaranya bagi pendidik untuk memahami fenomena pendidikan secara sistematis, memberikan petunjuk tentang yang seharusnya dilaksanakan dalam mendidik, menghindari kesalahan-kesalahan dalam praktek mendidik anak juga untuk ajang untuk mengenal diri sendiri dan melakukan koreksi demi perbaikan bagi diri sendiri.

Menurut saya sendiri, pedagogik memang perlu dipelajari bahkan jika bisa untuk setiap orang, tanpa terbatas pada identitas sebagai calon guru. Karena sebenarnya kita semua akan atau mungkin anda yang telah memiliki keluarga telah menjadi seorang pendidik. Saya menyadari dan mengetahui pada dasarnya manusia mempunyai naluri untuk mendidik tanpa mempelajari teori, buktinya banyak orang tua berhasil mendidik anak mereka sampai kesuksesan, tanpa mempelajari pedagogik, namun teoripun lahir dari praktek di lapangan.

Lalu apakah dengan mempelajari pedagogik dan mempraktekannya dapat mendidik anak sehingga anak dapat mencapai kesuksesan? Jawabannya adalah bisa, karena tujuan pedagogik adalah memanusiakan manusia, menjadikan seseorang dewasa demi kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Kesuksesan ini jangan terus dikurung dalam artian pada kemapanan materi dari pandangan kita sebagai seorang pendidik sejati, tapi hakikatnya adalah menjadikan kesuksesan itu sebagai keberhasilan dalam menanamkan pada diri seseorang kebahagiaan dalam menjalani hidup dengan mengaplikasikan seperti misalnya mematuhi norma-norma yang ada pada masyarakat. Intinya, menjadikan seseorang menjalani hidup dengan bahagia.


Pembelajaran Yang Menyenangkan dan Memberdayakan

Berdasarkan hasil sebuah penelitian untuk disertasi doktor, bahwa terdapat dua hal yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan mutu atau kualitas pendiidkan, pertama pembelajaran yang efektif, kedua model evaluasi yang valid.

Pendidikan merupakan proses yang sistemik, setiap komponen berada di dalamnya merupakan satu kesatuan  yang tidak terpisahkan dan saling berkaitan (interdependensi).  Tetapi inti dari proses pendidikan secara keselurah adalah bagaimana terjadinya proses pembelajaran yang effektif, baik didalam kelas maupun di luar kelas.  Terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan dan memberdayakan siswa adalah merupakan hal yang sangat mendasar.  Ketika siswa senang dan nyaman belajar serta tergali seluruh potensinya, maka pribadinya akan teraktualisasikan dengan optimal.  Masalahnya adalah, bagaimana menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (enjoyful), dan mampu menggali potensi serta memberdayakannya.

Hal yang mendasar, yang harus ada dalam proses pembelajaran adalah peserta didik atau siswa, guru atau pendidik, bahan pelajaran, media pembelajaran, metoda, dll.  Unsur yang lebih mendasar lagi dalam proses pembelajaran adalah adanya siswa dengan guru.  Jika kita runutkan kembali faktor yang paling inti, adalah kehadiran sosok seorang guru,  kehadiran seorang gurulah yang paling mendasar dalam menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (Pakem).

(more…)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,429 other followers