PENJASORKES SMK-SMTI BANDAR LAMPUNG

AEROBIC SPORT

Sports Aerobics is the ability to perform continuous complex and high intensity movement patterns to music, which originate from traditional aerobic dance.

The main purpose of traditional aerobic dance is to improve cardiovascular endurance and fitness levels by combining a series of aerobic movements with repetitions in order to involve major muscle groups, to increase the heart rate. Because of the repetition of the movements for a long period of time, the only concern was to maintain the alignment of the body.When the sport became a part of the gymnastics family, it was necessary to add difficulty criteria to the artistic and technical aspects in ordrer to make a competitive sport.

The routine in Sports Aerobics must demonstrate continuous movement, flexibility, strength and utilization of the seven basic steps with a high degree of perfectly executed elements of difficulty. Combinations of basic aerobic dance steps together with arm movement patterns performed to music to create dynamic, rhythmic and continuous sequences of high and low impact movements.The selection of the routines should provide a desired intensity to exemplify the cardiovascular nature of aerobics.

Initially by adding difficulty elements as a criteria, competitors tended to concentrate more weighting on the difficulty elements (which is less than 10% of the final score) than the artistic area. The secret is how to integrate the difficulty elements fluently with the aerobic movements in order to create a dynamic choreography for the sport.  The routine must show a balance between variety of aerobic dance movement patterns and difficulty elements. Another trend was that sports aerobic routines were done more at the floor level.  This contradicted with the traditional aerobic movements which are performed in a standing position with vertical rebound activity.  Therefore, the new Code of Points restricts 6 elements maximum on the floor. The routine should give the impression of aerobics and not the packed with elements of a Broadway show.  Of course the competitor must captivate the audience; but this should be done in a sporting manner.  Hence, Sports Aerobics will be a dynamic and creative sport.


MEMAHAMI PEDAGOGIK

Apa itu pedagogik?

Bagi pendidik, istilah ini pasti sudah tidak asing lagi, dan ilmunya menjadi sebuah acuan dalam praktek mendidik anak. Jika dilihat dari segi istilah, pedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin).

Dari dua istilah diatas timbul istilah baru yaitu paedagogos dan pedagog, keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yaitu sebutan untuk pelayan pada zaman Yunani kuno yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah setelah sampai di sekolah anak dilepas, dalam pengertian pedagog intinya adalah mengantarkan anak menuju pada kedewasaan.

Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Lalu apa sih yang menjadi kesalahpahaman istilah Pedagogik?

Kadang sebagian orang mengartikan bahwa pedagogik merupakan ilmu pendidikan, pemaknaan ini tidak berarti salah namun juga tidak sepenuhnya benar, mengapa? Karena jika ditinjau dari makna pendidikan secara luas maka Pendidikan adalah hidup. Lebih tepatnya segala pengalaman di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu. (more…)


FILOSOFI LAGU ILIR ILIR

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“. (more…)


FILOSOFI LAGU GUNDUL-GUNDUL PACUL

Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.

Gundul: adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul: adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).
Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

GUNDUL2 PACUL CUL artinya orang yang dikepalanya sdh kehilangan 4 indera tersebut yang mengakibatkan sikap berubah jadi GEMBELENGAN (= congkak).

NYUNGGI2 WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat) selalu sambil GEMBELENGAN (= sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia2, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)

SEMOGA MENGISPIRASI SEMUANYA


BUSHIDO SPIRIT

Bushido 武 = Bu yang artinya Beladiri, 士 = Shi yang artinya Samurai atau orang dan 道 = Do yang artinya jalan atau cara yang secara harfiah dapat diartikan menjadi tatacara berperilaku kesatria adalah sebuah kode etik kepahlawanan golongan Samurai dalam tatanan feodalisme Jepang. Samurai sendiri adalah sebuah strata sosial penting dalam tatanan masyarakat feodalisme Jepang.
Bushido adalah etika moral bagi kaum samurai. Berasal dari zaman Kamakura (1185-1333), terus berkembang mencapai zaman Edo (1603-1867), bushido menekankan kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dll. Aspek spiritual sangat dominan dalam falsafah bushido. Meski memang menekankan “kemenangan terhadap pihak lawan”, hal itu tidaklah berarti menang dengan kekuatan fisik. Dalam semangat bushido, seorang samurai diharapkan menjalani pelatihan spiritual guna menaklukkan dirinya sendiri, karena dengan menaklukkan diri sendirilah orang baru dapat menaklukkan orang lain. Kekuatan timbul dari kemenangan dalam disiplin diri. Justru kekuatan yang diperoleh dengan cara inilah yang dapat menaklukkan sekaligus mengundang rasa hormat pihak-pihak lain, sebagai kemantapan spiritual. Perilaku yang halus dianggap merupakan aspek penting dalam mengungkapkan kekuatan spiritual.
Bushido mengajarkan tentang kesetiaan, etika, sopan santun, tata krama, disiplin, kerelaan berkorban, kerja keras, kebersihan, hemat, kesabaran, ketajaman berpikir, kesederhaanan, kesehatan jasmani dan rohani. (Surajaya dalam Beasley, 2003: xx)
Nilai lain yang didalami dalam dalam ajaran Bushido adalah tentang bagaimana kita bersikap total, total dalam mengerjakan sesuatu, total dalam mengabdi, dalam kesetiaan, dalam segala hal menjalani kehidupan kita. Merasakan kehidupan dalam tiap nafas berarti kita benar-benar HIDUP. Banyak dari kita yang hidup di dunia ini dengan setengah-setengah. Menyia-nyiakan hidup dengan bermalas-malasan. Bushido mengajarkan diri kita untuk merasakan setiap nafas yang kita hirup. Setiap detik hidup ini harus dijalani denga sungguh-sungguh. Segala bidang yang kita tekuni harus dijalani dengan 100%. Jika Anda adalah seorang siswa – maka Anda harus melaksanakan semua hal yang wajib dilakukan oleh seorang siswa, seperti belajar, mengerjakan tugas dan menjalani ujian. Anda wajib menenggelamkan diri Anda dalam proses menjadi seorang siswa. Dimana Anda benar-benar mendedikasikan hidup Anda untuk belajar serta menjadi seorang siswa seutuhnya.
Orang-orang yang berhasil di luar sana adalah mereka yang telah “Menenggelamkan diri” mereka dalam bidang yang mereka tekuni. Begitu juga dengan para musisi-musisi sukses seperti Kitaro ataupun Bethoven. Dalam perjalanan hidup mereka, musik merupakan segalanya dalam kehidupan mereka. Hal yang sama juga terjadi pada pembalap legendaris, Micke Doohan – Sang Juara Dunia GP legendaris. Bagaimana dengan bidang yang lain? Tentunya hal yang sama akan terjadi jika Anda mampu “menenggelamkan diri” Anda sepenuhnya pada hal yang Anda kerjakan. Hidup secara TOTAL berarti Hidup menuju Kesuksesan.
Orang-orang di luar Jepang kerap mengasosiasikan semangat bushido dengan praktek seppuku yang tidak pernah dilakukan lagi di zaman modern ini. Seppuku adalah ritual bunuh diri dengan merobek perut sendiri dengan sebilah pedang sebagai bukti rasa tanggung jawab.
Di masa-masa feodal dulu di Jepang, para pendekar perang menganggap perut sebagai tempat bermukimnya jiwa. Jadi pada waktu mereka harus membuktikan rasa tanggung jawab sebagai pendekar atas perbuatannya, mereka lebih memilih melakukan seppuku. Tata caranya adalah bersimpuh lalu merobekkan pisau kecil atau biasa disebut tanto ke permukaan perut melintang agar usus terburai. lalu seseorang dibelakang atau yang menyaksikan harus bersiap untuk memenggal kepala yang bertujuan agar penderitaan nya tidak berkepanjangan. Di jaman Edo, seppuku bahkan merupakan bentuk hukuman mati bagi anggota kelas samurai. Yang bersangkutan melakukan sendiri seppuku, untuk itu disediakan seseorang guna membantu menuntaskan kematian tersebut agar penderitaan tidak berlarut-larut. Dewasa ini seppuku sama sekali tidak dipraktekkan lagi. Kasus terakhir tercatat pada tahun 1970 ketika seorang sastrawan besar Mishima Yukio melakukan bunuh diri dengan cara ini, dan hal itu sangat mengejutkan seluruh negeri Jepang. Di luar Jepang, praktek seppuku lebih dikenal dengan hara-kiri (merobek perut).


PENDIDIKAN TANPA KARAKTER SEPERTI “SAMURAI TANPA BUSHIDO”

Pasti kita sering mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ya, lagu kebangsaan yang tiap kita perdengarkan / nyanyikan saat upacara pengibaran bendera, maupun acara formal, namun tahukah kita akan pesan yang tersurat dalam syair lagu tersebut,

” Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya”

Pesan tersurat tersebut seakan acuh dan hanya kita nyanyikan saja tanpa memahami apa pesan tersurat tersebut.
Bahwa sebenarnya yang telah diamanatkan oleh pendiri bangsa kita, adalah perintah untuk membangun setiap jiwa-jiwa manusia Indonesia khusunya para pemudanya sebagai penerus estafet pembangunan bangsa.

Banyak orang beranggapan sekarang bahwa Intelektual jauh lebih penting dari segalanya. Ada sebuah istilah ”Ilmu tanpa Karakter bagai Samurai tanpa Bushido”. kami dapatkan waktu mengikuti semnar di kampus tercinta

Seperti Ini Kira2 Materinya :
Pendidikan selama beberapa dekade belakangan ini telah bertumpu hanya pada aspek intelektualitas. Hal ini tampak pada berbagai kasus remaja yang diangkat oleh media masa, seperti tawuran, siswa, kecurangan dalam pelaksanaan UN, penggunaan Napza, dan pergaulan bebas. Penelitian mutakhir dan realitas yang terjadi di masyarakat menunjukkan bahwa bukan hanya penguasaan intelektual saja yang menunjang kesuksesan seseorang. Aspek kecerdasan emosi dan spiritual justru lebih besar pengaruhnya terhadap kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Di sinilah tampak urgensi dari pendidikan karakter. Selanjutnya ia mengatakan: “Saya semakin merasakan betapa pentingnya pendidikan karakter setelah mempelajari ilmu dan semangat samurai. Para samurai memiliki dua hal, yaitu Wasa dan Do. Wasa artinya skill sedangkan Do artinya The way of life (Prinsip hidup) yang dikenal Bushido. Para samurai memiliki senjata yang disebut Katana atau Pedang. Pedang yang tajam tentu mengerikan dan berbahaya jika dimiliki oleh orang yang tidak bermoral. Pedang menjadi tidak berbahaya ketika pemegangnya mempunyai sifat yang disebut Bushido, yaitu amanah, pengasih, santun, sopan, mulia, hormat, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan seperti kimia, fisika, akutansi, hukum, adalah ibarat pedang yang bisa membinasakan. Jika ilmu tersebut dikuasai tetapi tanpa dibekali karakter, yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki adalah ilmu fisika tanpa nurani. Begitu pula dengan white phospor yang mematikan anak-anak di Palestina. Banyaknya orang tidak bersalah dijebloskan ke dalam penjara, adalah karena orang yang menguasai ilmu hukum tidak disertai dengan sifat keadilan”.
Sekilas tentang Bushido: Seorang pembesar Jepang sedang berada dalam perjalanan. Ia melihat sebongkah emas yang tampaknya jatuh dari sebuah karavan yang lewat sebelumnya. Saat itu, ia berpapasan dengan pencari kayu yang sedang memikul bebannya. “Ambillah emas itu untukmu”, kata pembesar tadi pada pencari kayu. Ia merasa iba dengan orang yang tampak hidup susah itu hingga ingin membantu meringankan bebannya. Bukan mengambil emasnya, pencari kayu itu justru menasehati sang pembesar. “Tuan”, ucapnya. “Tuan seperti seorang terhormat. Mengapa bicara tuan begitu rendah. Saya memang seorang pencari kayu, tapi saya bangga hidup dengan hasil keringat saya sendiri. Jangan pernah tuan meminta saya mengambil yang bukan hak saya”. Sang pembesar terkesima dengan sikap pencari kayu itu. Ia orang biasa, tapi menjaga tegak karakter Bushido yang menjujung tinggi integritas dan kejujuran yang menjadi prinsip bushido. Kemajuan secara menyeluruh saat tidak lepas dari spirit bushido tersebut. Kisah itu ditulis oleh Yagama Soko (1622-1685), salah seorang penulis terpenting “Spirit Bushido atau Budaya Ksatria Jepang” (Zaim Uchrowi, 2009: 4). Spirit itu teguh dari masa ke masa hingga kini. Spirit itu bukan hanya di kalangan masyarakat terhormat, namun juga di masyarakat umum. Gambaran bahwa di Jepang setiap dampet yang jatuh umumnya akan kembali dalam keadaan utuh merupakan refleksi teguhnya integritas dan kejujuran.

Mudah2an menginspirasi bapak dan ibu pembaca semua, khusunya bagi bapak ibu pendidik, mari pak/bu kita bahu membahu menciptakan generasi yang istiqomah, tidak hanya cerdas intelektual tetapi juga moral dan spiritualnya…SEMANGAT…


PLAN, DO, CHEEK, ACTION = CONTINUOUS IMPROVEMENT

Kaizen (改善?), Japanese for “improvement”, or “change for the better” refers to philosophy or practices that focus upon continuous improvement of processes in manufacturing, engineering, game development, and business management. It has been applied in healthcare, psychotherapy, life-coaching, government, banking, and other industries. When used in the business sense and applied to the workplace, kaizen refers to activities that continually improve all functions, and involves all employees from the CEO to the assembly line workers. It also applies to processes, such as purchasing and logistics, that cross organizational boundaries into the supply chain. By improving standardized activities and processes, kaizen aims to eliminate waste (see lean manufacturing). Kaizen was first implemented in several Japanese businesses after the Second World War, influenced in part by American business and quality management teachers who visited the country. It has since spread throughout the world and is now being implemented in many other venues besides just business and productivity.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,430 other followers