MOTOR LEARNING

Menstabilkan kemampuan-kemampuan dan keterampilan motorik bukanlah suatu pekerjaan yang gampang. Apalagi hal ini berkaitan dengan upaya peningkatan dan pengembangan kedalam suatu bentuk prestasi. Prestasi itu merupakan suatu yang sangat kompleks dan sensitif. Dikatakan komplek karena prestasi membutuhkan banyak pertimbangan dan kemampuan analisis yang tinggi, baik terhadap aspek-aspek yang mempengaruhi secara positif, apalagi terhadap hal-hal yang negatif. Untuk dapat membantu guru pendidikan jasmani dalam menyusun stategi pembelajaran dan mengendalikan proses pembelajaran secara optimal, maka diperlukan pengetahuan dan pengalaman atau pemahaman tentang ciri-ciri fase belajar motorik tingkat tiga.
Ciri-ciri Umum Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga
Tugas seorang guru pendidikan jasmani pada fase belajar tingkat ketiga ini tidak dapat dikatan ringan bila dibandingkan dengan fase belajar tingkat pertama atau kedua, hal ini perlu dipahami,karena pada semua tingfkat belajar, guru pendidikan jasmani mempunyai tugas dan tujuan yang berbeda-beda.
Fase belajar tingkat pertama, guru mempunyai tugas yang berat, yaitu untuk memperkenalkan kepada peserta didik sesuatu yang baru dan berusaha untuk mengendalikan proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat menguasai hal-hal yang baru dan batas-batas tertentu.
Fase tingkat kedua, guru memiliki tugas untuk menambah dan memperhalus keterampilan peserta didik. Fase ini merupakan fase perentara atau transisi yang menentukan prestasi tinggi seseorang.
Fase belajar motorik tingkat tiga, guru mempunyai tugas untuk menstabilkan kemampuan-kemampuan motorik yang dikuasai serta mengembangkan berbagai situasi yang bervariasi.
Gerakan-gerakan yang dituntut untuk mengerjakan suatu tugas dapat dilakukan tampa merasa ada keraguan. Suatu hal yang perlu mendapat perhatian dari guru pendidikan jasmani adalah bahwa perbedaan kemampuan prestasi dalam pelaksanaan suatu gerakan yang nyata. Kemampuan prestasi tersebut kelihatan hampir sama, bila pelaksanaan gerakan dilakukan pada situasi dan kondisi yang tidak berubah-rubah.
Berdasarkan dari uraian di atas, dapat diperoleh suatu defenisi perbedaan kemampuan prestasi seseorang yang berada pada fase belajar pada tingkat tiga adalah kemampuan yang cukup tinggi dalam mentransper keterampilan motorik yang telah dikuasai ke dalam berbagai kondisi dan situasi. Kemampuan seseorang yang berada pada belajar tingkat tiga dalam mengambil atau merubah keputusan dalam waktu yang cukup cepat seta mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk mentransfer keterampilan yang telah dikuasainya merupakan hasil perbaikan yang didapatnya melalui peningkatan dalam berbagi aspek, antara lain:
– Perbaikan dalam mengantisipasi suatu situasi dan kondisi
– Perbaikan peran analisator kinestetik, sehingga ia mampu mengendalikan dan mengatur implus-implus tenaga pada otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan
– Perbaikan fungsi dan peran indera penerima impormasi
– Perbaikan-perbaikan dalam pengolahan impormasi yang diterima, perbaikan tersebut dapat dilihat dari semakin tepatnya keputusan-keputusan yang diambil. Hal ini dapat diamati pada ketepatan dan kemantapan penampilan gerak.
Kemampuan dalam mengambil dan merubah keputusanyang tepat dalam waktu yang singkat untuk menghadapi berbagai situasi oleh individu yang berbeda pada fase belajar tingkat ketiga merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman motorik yang berhasil dikumpulkan dan disimpan dalam ingatan motorik pada pusat simpanan motorik. Pengalaman motorik yang tersimpan semakin membantu sipelaku gerakan untuk mengambil keputusan dalam waktu yang cepat, upaya menghadapi situasi dan kondisi tertentu.
Ciri-ciri Khusus Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga
1.Terbentuknya Kemampuan Automatisasi
Kemampuan automatisasi ini merupakan tingkat kemampuan yang tinggi dalam penguasaan keterampilan motorik olahraga. Terbentuknya kemampuan automatisasi ini hanya mungkin, bila individu yang bersangkutan benar-benar telah menjiwai dan memiliki bermacam-macam bentuk gerakan dalam suatu cabang olahraga tertentu.
Kemampuan automatisasi ini erat hubungannya dengan program gerakan. Program gerakan yang telah tersimpan sebagai ingatan motorik, maka individu yang bersangkutan hanya tinggal merealisasikannya, sebagai contoh kongkrit misalnya gerakan kaki dan ayunan tangan pada saat berjalan.
Keadaan demikian menyebabkan gerakan-gerakan tersebut dimiliki secara mendasar oleh seseorang. Bila suatu saat dibutuhkan, maka program gerakan tersebut siap untuk direalisasikan ke dalam bentuk nyata yaitu gerakan.
2.Bayangan dan Konstuksi Bayangan Gerakan
Kecepatan dalam memilikidan mengkonstruksi bentuk-bentuk gerakan baru akibatnya dari perubahan situasi secara tiba-tiba atau kecepatan dalam pengaturan dan pengendalian kembali penyimpangan-penyimpangan gerakan. Perbaikan dalam aspek ini tdak hanya terlihat dari kecepatan mengkonstruksi program gerakan, tetapi juga berhubungan dengan ketepatan dari gerakan-gerakan yang dikonstruksi tersebut.
Dalam hal ini dapat kita amati didalam permainan bola basket. Seorang pemain telah membuat program gerakan untuk melakukan shooting, tetapi dengan tiba-tiba dihalangi oleh pemain lawan, pemain yang akan melakukan shooting tersebut dengan cepat dapat merobah program menjadi gerakan lain, seperti mengoper bola pada salah satu teman. Untuk pelaksanaan suatu gerakan adalah menyertai aspek-aspek yang berhubungan dengan program gerakan.
Misalnya dalam melaksanakan lompat jauh, seseorang akan melaksanakan gerakan
– Gerakan awalan
– Gerakan menolak
– Gerakan melayang
– Gerakan mendarat
3.Irama Gerakan
Berkaitan dengan irama gerakan, maka bentuk kerja yang diperlihatkan dalam pelaksanaan gerakan pada fase tingkat ketiga, ini terlihat semakin mulus dan lancar, sehinga gerakan-gerajan yang dilakukan cukup efesien dan efektif baik dalam hal pemakaian ruangan, maupun waktu dan tenaga. Ini merupakan hasil dari faktor peningkatan: perbaikan kemampuan antisipasi gerakan, peningkatan kualitas peran dan fungsi analisator kinestik, sehingga memungkinkan pemberian implus tenaga kepada otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan.
4.Kecepatan Gerakan
Individu yang berada pada fase belajar tingkat ketiga mampu melakukan gerakan-gerakan yang dituntut dengan cepat. Bahkan situasi dan kondisi memaksa, dia mampu melakukan perubahan-perubahan bentuk gerakan dengan cepat. Suatu keistimewaan khusus yang dimiliki oleh individu yang berada pada fase belajar tingkat ke tiga adalah kemampuannya untuk memanipulasi bentu-bentuk gerakan.
Bentuk gerakan yang pertama adalah program yang sebenarnya yakni bentuk-bentuk gerakan atau bentuk-bentuk aksimotorik yang akan dilakukan untuk pencegahan tugas gerakan atau untuk meraih hasil yang dicapai. Sedangkan bentuk gerakan yang kedua adalah bentuk gerakan yang akan menunjang atau memperlancar program gerakan yang sesungguhnya (bentuk tipuan).
C. Ciri-ciri Kemampuan Penerimaan dan Pengolahan Impormasi Fase Belajar Tingkat Tiga.
Ciri-ciri khusus kemampuan penerimaan dan pengolahan imformasi individu yang berada pada fase belajar tingkat tiga adalah semakin meningkatnya fungsi dan peran analisator informasi kinestik. Dengan pengertian lain terjadinya peningkatan kepekaan analisator kinestik dalam penerimaan informasi.
Dengan demikian semakin meningkatnya kualitas kepekaan analisator kinestik berarti individu yang berada pada fase belajar tingkat ke tiga akan banyak menerima feet-back tentang jalannya gerakan dari analisator kinestik. Dengan pengertian lain bahwa individu yang bersangkutan akn banyak menerima umpan balik.
D.Ciri-ciri Fase Belajar Motorik Tingkat Tiga dan Implikasinya Kedalam Proses Pembelajaran.
Fase ini untuk menstabilkan kemampuan kordinasi halus yang telah dikuasai. Proses pembelajaran diarahkan untuk pembentukan kemampuan transper dari keterampilan-keterampilan motorik yang telah dikuasai tersebut pada berbagai situasi dan kondisi. Oleh karena itu, haruslah menjadi perhatian guru pendidikan jasmani akan memberikan latihan-latihan yang sesiai dengan karakter-karakter kemampuan yang di milki setiap individu.
Penyesuain tingkat kesulitan materi pengajaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Materi yang disajikan dalam bentuk-betuk latihan yang akan diberikan harus dapat meransang kemampuandan keterampilan motorik didik untuk mengalami peningkatan kualitas kemampuan dan keterampilan motorik yang telah mereka kuasai.
Aspek lain yang harus mendapatkan perhatian dari guru pendidikan jasmani adalah penekanan latihan. Penekanan latihan dalam proses pembelajaran pada fase belajar tingkat ketiga ini harus lebih diarahkan pada peningkatan kemampuan peserta didik bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mendeteksi kesalahan-kesalahan gerakan yang terjadi pada pelaksanaan gerakan berlangsung.
Bentuk latihan lain yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran adalah latihan dalam bentuk mental training. Misalnya memberikan latihan untuk membangun kontustruksi-konstruksi gerakan atau menyusun program gerakan, atau latihan-latihan yang dapat mengarahkan pe4ningkatan kemampuan peserta didik dalam mengambil keputusan secara tepat dan cepat untuk mengatasi berbagai situasi yang bermasalah. Untuk memantapkan hasil yang diperoleh dari latihan mental training diberikan beberapa kali, lalu dilanjutkan dengan latihan-latihan pelaksanaan sesuai dengan program gerakan. Latihan mental ini akan lebih bermanfaat lagi bila latihan diarahkan pada perhitungan kecepatan bagian gerakan yaitu:
– Kemampuan mengantisipasi perubahan situasi yang akan terjadi dan efek dari perubahan tersebut.
– Kempuan ketepatan gerakan.
– Kemampuan melaksanakan gerakan secara ekonomis, baik dari segi waktu, tenaga maupun ruang yang terpakai.
– Kemampuan pengambilan keputusan dengan cepat
Proses pembelajaran adalah prinsip penyelenggaraan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pembelajaran cbsa pendidikan jasmani di sekolah guru masih dominan dalam pengambilan keputusan baik dalam menentukan bentuk-bentuk proses intekrasi yang terjadi maupun dalam didalam menetukan skenario proses penbelajaran itu sendiri. Selain itu ada juga guru pendidikan jasmani yang terlalu luas dalam menerjemahkan atau mengambil pengertian tentang prinsip CBSA. Ini sering membiarkan peserta didiknya dalam penyelenggaraan pengajaran pendidikan jasmani melakukan apa saja yang di inginkan mereka.
Pada prinsip CBSA menuntut keaktifan guru dan murid dalam proses pembelajaran. Tugas guru dalam penyelenggaraan CBSA adalah memikirkan, menganalisis situasi dan kondisi proses pembelajaran untuk mengarahkan atau memungkinkan peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Pendukung guru dalam pembelajaran CBSA antara lain:
 Bergerak, berlari, melompat, berkejar-kejaran sudah merupakan kebutuhan alami para peserta didik.
 Situasi pengajaran pendidikan jasmani tidak sama dengan bidang study yang lain.
 Hal yang disajikan dapat meransang stimulus terhadap peserta didik untuk bergerak.
 Mengajak peserta didik untuk bersipat sportif.
 Menimbulkan semangat, melalui psikis yang dimilikinya.

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,430 other followers